197. Ciung Wanara, Raja galuh, Ciamis, World Peace Gong, Gong Perdamain Dunia, Ciamis

Tempat ini Peulis kunjungi sekitar 25 tahun yang lalu hari iniMinggu  tanggal 19 Juli 2015, penulis sempat berkunjung lagi ke tempat ini karena ada hubungan bathin, ada suatu kejadian Ciung Wanara Situspribadi yang benar-benar melekat pada jalan hidupArcSoft_Image98ku.

Tempat Duduk Raja Galuh di Halaman Terbuka

Tempat Duduk Raja Galuh di Halaman Terbuka

World Peace Gong

Gong Perdamaian Dunia

25 tahun yang lalu, penulis dapat memegang benjolan yang ada disebuah pohon yang cukup besar, dengan mata tertutup. Katanya yang dapat melakukan dab berhasil akan mendapat rezeki. Mungkin sudah takdir dalam hitungan bulan penulis mendapat panggilan untuk mengisi jabatan eselon IV Kanwil Depdiknas Saat itu (-/+ Tahun 1990), jabatan asal adalah guru SPG di Jakarta. Selama kurang lebih 21 tahun bergelut di jabatan struktural. Dan sejak tahun 2011 sudah kembali jadi guru yang diperbantukan dislah satu Unversitas swasta di Jakarta.

Hari ini 25 tahun yang lalu penulis berhasil menyentuh kembali benjolan yang ada di pohon tersebut dengan mata tertutup, entah apa yang akan di dapat, semuanya kehendak Allah … terserah yang punya kuasa. Amin.

inilah sejarah Ciung wanara (di kutip dari: Friesca Putri M, Nurul Fajri, Rheza Herlambang, Yayan Suryana F
Jurusan Pendidikan Sejarah 2011-Universitas Pendidikan Indonesia)

Ciung Wanara sebagai Sejarah
Sang Manarah yang disebut juga Ciung Wanara atau Prabu Suratama, atau Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuwana memerintah Galuh dari tahun 739-783 Masehi. Dia adalah putra Prabu Adimulya Permanadikusuma yang terbunuh oleh utusan Tamperan. Ibunya bernama Naganingrum cucu Balangantrang yang menjadi istri kedua Tamperan, setelah suaminya meninggal dunia.
Ciung Wanara dijodohkan dengan cicit Demunawan yang bernama Kencana Wangi. Dari perkawinan ini dikaruniai anak bernama Purbasari yang kelak menikah dengan Sang Manistri atau Lutung Kasarung.
Dalam usaha merebut Kerajaan Galuh dari tangan Tamperan, Ciung Wanara dibimbing oleh Balangantrang yang telah berpengalaman dalam urusan kenegaraan. Sejak kecil Ciung Wanara atau Sang Manarah telah ditempa oleh berbagai ilmu pengetahuan dan siasat perang, karena Balangantrang bermaksud menjadikan Ciung Wanara sebagai Raja di Kerajaan Galuh, sebagai penerus ayahnya, yang pada waktu itu Kerajaan Galuh diduduki oleh Tamperan.
Akhirnya Ciung Wanara mengetahui rahasia negara setelah diberi tahu oleh Balangantrang. Dia dipersiapkan dengan matang sekali untuk merebut kembali Kerajaan Galuh.
Ketika itu pihak Kerajaan Galuh tidak mengetahui bahaya yang akan mengancamnya, mereka tidak mengetahui pula dimana Ciung Wanara berada dan persiapan apa yang sedang di lakukan oleh Balangantrang. Pertahanan negara tidak terpusat pada peperangan, karena di Kerajaan sedang dimabuk dengan berbagai permainan yang mengasikan, seperti permainan sambung ayam yang sedang menjadi kegemaran di negara.
Dengan demikian Kerajaan Galuh mudah dilumpuhkan ketika Ciung Wanara bersama pasukannya melakukan penyerangan.
Ciung Wanara memerintah selama kurang lebih 44 tahun, dengan wilayah pemerintahannya antara daerah Banyumas sampai ke Citarum, setelah cukup lama memerintah, Ciung Wanara mengundurkan diri dari pemerintahan, pemerintahan selanjutnya diteruskan oleh menantunya sendiri yaitu Sang Manistri atau Lutung Kasarung suami dari Putri Purbasari.
Pada tahun 783, Manarah melakukan Manurajasuniya yakni mengakhiri hidupnya dengan bertapa.
2.3.2 Ciung Wanara sebagai Legenda
Dalam sejarah Parahyangan, di daerah yang dikenal sebagai kawasan Tatar Galuh terdapat dua situs sejarah yang berhubungan erat dengan sejarah Galuh, yaitu Situs Astana Gede di daerah Kawali dan Situs Karang Kamulyan, keduanya terletak dalam wilayah Kabupaten Ciamis.
Kedua situs itu memang dipimpin oleh dua orang raja yang terkenal, yaitu Raja Wastukancana di Kawali dan Ciung Wanara di Karangkamulyan. Cerita Ciung Wanara ini berawal dari sebuah kerajaan bernama Medangkamulyan yang dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Adimulya atau Ratu Permana, atau lebih dikenal dengan nama Permanadikusumah yang beristrikan Naganingrum dan Dewi Pangrenyep.
Namun karena Raja Permanadikusuma punya hobi bertapa, akhirnya pimpinan pemerintahan beserta istri dan keluarganya dititipkan sama Patih Bodan. Lalu Raja Permanadikusumah pun pergi ke Gunung Padang di kawasan Cikoneng sekarang, dan setelah bertahun-tahun bertapa Raja Permanadikusumah mendapat gelar Pandita Ajar Sukaresi yang terkenal sakti mandraguna.
Singkat cerita kehebatan Pandita Ajar Sukaresi sampai juga ke telinga Patih Bondan yang menjadi Raja di Medangkamulyan, lalu dia memanggil petapa itu untuk diuji kemampuannya dengan maksud untuk dipermalukan, yaitu dengan cara Putri Naganingrum dijejali Bokor atau Kuali supaya kelihatan hamil. Di hadapan Ajar Sukaraja, Patih Bondan berkata, coba tebak laki atau perempuan yang sedang dikandung oleh Naganingrum, lalu Pandita Ajar Sukaresi menjawab bahwa yang akan dilahirkan oleh Naganingrum adalah seorang bocah laki-laki. Patih Bondan pun tertawa terbahak-bahak dan mengatakan bahwa itu cuma akal-akalan saja. Tapi Andita Ajar Sukaresi meminta buktinya. Kemudian bokor tersebut diambil dan ternyata, dia benar-benar hamil. Saking jengkelnya kuali tersebut ditendang dan jatuh di satu tempat yang kemudian bernama Kawali tempat di mana situs Astana Gede berada.
Anak tersebut kemudian lahir dan benar-benar seorang bocah laki-laki. Berhubung Naganingrum adalah keturunan Galuh sama seperti Pandita Ajar Sukaresi maka otomatis Patih Bondan ketakutan kekuasaannya akan jatuh ke keturunan Galuh. Lalu timbullah perselingkuhan antara Dewi Pangrenyep dengan Patih Bondan yang keturunan Sunda, dari hasil perselingkuhan tersebut lahirlah seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Hariangbanga.
Sedangkan tentang putra dari Naganingrum sendiri, Patih Bondan selalu berusaha membunuhnya. Namun karena orang suruhannya tidak tega melakukannya, akhirnya si bayi tersebut dihanyutkan di sungai dengan dibekali sebutir telur ayam, bayi bersama telur ayam tersebut kemudian diketemukan oleh seorang penangkap ikan yang bernama Aki Balangantrang, bayi tersebut kemudian dirawatnya dengan baik-baik, sedangkan telur ayamnya dititipkan pada Nagawiru.
Pada suatu hari, si bayi yang tumbuh semakin besar, diajak Aki Balangantrang jalan-jalan ke hutan, ketika berjalan di dalam hutan si anak tersebut melihat seekor burung, si anak tertarik dan bertanya tentang burung yang cukup gesit serta berkicau cukup tinggi/melengking tinggi. Aki Balangantrang menjelaskan tentang burung dan nama burung itu, burung Ciung.
Semakin lama semakin dalam masuk hutan, kemudian bertemu dengan seekor harimau, mereka kaget dan bersembunyi. Setelah itu berjalan lagi melihat seekor badak bercula 3 sedang makan dan saat bersamaan kedatangan harimau yang ingin mengganggu, terjadilah pertempuran seru dan akhirnya harimau kalah meskipun badak juga terluka. Si anak diam saja dan tidak memberikan reaksi kepada Aki Balangtrang. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan, dan saat di jalan sepi mereka dihadang oleh seekor beruang raksasa, aki menyuruh si anak untuk bersembunyi, maka berhadapanlah Aki dengan beruang. Setelah bertempur cukup lama, Aki dapat mengalahkan beruang itu.
Mereka melanjutkan perjalanannya lagi beberapa saat mereka melihat seekor monyet melompat dan berayun-ayun di antara pohon-pohon besar saat monyet itu sudah tidak kelihatan, mereka akan melanjutkan perjalanan ternyata di hadapannya dihadang oleh seekor ular cobra raksasa, yang ingin memangsa mereka berdua, maka berkelahilah si Aki dengan ular itu. Saat Aki Balangtrang mulai terdesak, muncullah seekor monyet yang mencoba membantu Aki Balangtrang, akhirnya monyet tersebut bertempur dengan ular cobra raksasa, dengan gerakan lincah dan loncat ke sana ke mari serta menggunakan akalnya untuk mengalahkan ular raksasa itu.
Si anak terkagum-kagum dengan gerakan monyet yang dapat menyudutkan ular tersebut dan akhirnya dapat mengalahkannya. Kemudian anak itu bertanya lagi dan diberitahu bahwa itu binatang Wanara. Timbul ide pada Aki Balangantrang untuk menamai anak itu dengan nama Ciung Wanara. Sedangkan telur ayamnya dierami oleh Nagawiru yang bersemayam dikaki gunung Padang. Setelah menetas, ayam tersebut menjadi seekor ayam yang benar-benar kuat dan perkasa.
Setelah berumur 6 bulan ayam itu oleh Nagawiru diantarkan ke rumah Aki Balangtrang dan kelak menjadi sahabat Ciung Wanara. Dalam pengembaraannya bersama ayamnya, Ciung menghadapi rintangan-rintangan baik dari para penyabung ayam yang tidak rela karena kalah maupun dengan para penyabung ayam yang ingin mengambil ayamnya dengan mengerahkan binatang-binatang raksasa untuk mencegah di jalan. Semuanya dapat dilalui sehingga nama Ciung Wanara semakin tenar seantero tanah parahyangan.
Setelah Patih Bondan, yang saat itu telah menjadi raja, mendengar ada seseorang memiliki ayam adu kuat, perkasa dan tak terkalahkan, maka sang raja pun mengadakan sayembara sabung ayam, yang isinya kira-kira bila mana ada yang bisa mengalahkan ayam kerajaan, maka si pemenang bakal mendapatkan setengah wilayah kekuasaan Medangkamulyan. Ayam sang raja ini merupakan ayam aduan yang tidak terkalahkan karena memiliki sifat-sifat yang kejam campuran sifat rajawali yang gesit dan lincah serta sifat harimau yang kejam dan sadis, dan selalu seperti melakukan gerakan-gerakan 2 binatang itu.
Singkat cerita Ciung Wanara pun ikut sayembara sabung ayam yang diselenggarakan Raja Bondan dan di dalam kalang. Setelah melawan banyak ayam yang ikut sayembara tersebut, maka ayam Ciung Wanara berhak maju untuk melawan ayam sang raja. Maka Ciung Wanarapun mendapatkan wilayah yang disayembarakan dan sekaligus menjadi raja-nya. Tapi karena Ciung Wanara telah mengetahui dari Aki Balangantrang bahwa dia adalah putra Raja Galuh, akhirnya Ciung Wanara berusaha merebut sisa wilayah yang masih dikuasai oleh Raja Bondan.
Siasat ini merupakan siasat licik sang raja, agar ayam aduan tetap segar dan sehat sehingga saat melawan ayam yang berhasil mengalahkan para peserta sampai di akhir babak melawan ayam raja menjadi lemah dan tidak kuat lagi. Begitu juga ayamnya Ciung Wanara, setelah beberapa lama bertanding dan hasil seri dan akhirnya berhasil mengalahkan ayam Raja Bondan, Ciung Wanara berhasil keluar sebagai pemenang sayembara dan mendapat hadiah wilayah yang disayembarakan dan akhirnya mengangkat dirinya sebagai raja. Tapi karena Ciung Wanara telah mengetahui dari Aki Balangantrang bahwa dia adalah putra Raja Galuh, akhirnya Ciung Wanara berusaha merebut sisa wilayah yang masih dikuasai oleh Raja Bondan. Akhir cerita dia berhasil mengalahkan Raja Bondan, sedangkan Hariangbanga, anaknya, berhasil meloloskan diri akan tetapi terus dikejarnya. Setelah bertempur sengit dengan Hariangbanga, akhirnya diberi tahulah oleh Aki Balangantrang bahwa Hariangbanga adalah saudaranya. Maka peperanganpun berhenti dan diputuskan bahwa wilayah kerajaan dibagi dua, sebagian untuk Hariangbanga dan sebagian lagi untuk Ciung Wanara. Kedua kerajaan tersebut dibatasi oleh sungai Cimapali.

Monyet berkeliaran Bebas

Monyet berkeliaran Bebas

Tempat Kediaman raja

Tempat Kediaman raja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: